Monday, January 13, 2014

PENGETAHUAN UNTUK IBU HAMIL DI ATAS USIA 35 TAHUN


Usia  Ibu Hamil di atas 35 tahun memang ada kelebihan dan kekurangannya. Di satu pihak, ibu yang hamil pada usia 35 tahun ke atas umumnya lebih siap secara mental dan mapan secara ekonomi. Namun di luar itu, tak sedikit pula resiko yang mengancam kesehatan ibu maupun janin. Secara statistic, angka mortalitas bayi dan ibunya lebih tinggi seiring pertambahan usia si Ibu. Tapi hal tersebut tidak spesifik. Artinya, pada Ibu Hamil berapapun usianya tetap mengandung resiko.

 Tips Mengurangi Resiko Kehamilan diatas 35 Tahun
Ibu yang hamil di atas 35 tahun dituntut punya pengetahuan lebih untuk mengetahui, bagaimana dan mengapa seorang ibu yang hamil di usia tersebut harus menjalani pola hidup sehat, menjaga psikis dan fisik dengan baik serta yang tidak kalah pentingnya menjaga pertumbuhan janin dengan lebih hati-hati dengan cara rajin periksa ke dokter kandungan. Semangat hidup dan suasana hati agar senantiasa senang juga akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. 


Bagaimana menjalani kehamilan resiko tinggi dan proses persalinan yang sehat dan aman di usia yang cukup beresiko bagi wanita usia 40 tahun terkadang menjadi pertanyaan banyak wanita di usia tersebut.
Dr Ivan R Sini, FRANZCOG,  GDRM ,  ahli kebidanan dari RS Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, menjelaskan bahwa kehamilan pada usia 37 tahun ke atas merupakan kehamilan dengan resiko komplikasi yang tinggi. Pada usia ini kualitas sel telur yang diproduksi sudah tidak bagus, dan ketika bertemu sperma akan menghasilkan kualitas janin yang tidak bagus. Seiring bertambahnya usia maka seriko kelahiran bayi dengan down syndrom adalah 1:50, hal ini sangat jauh berbeda pada kehamilan wanita usia 20-30 tahun yang memiliki resiko sebesar 1:1500. Selain itu kehamilan ini juga memiliki resiko sebesar 1:1500. Selain itu kehamilan ini juga memiliki resiko keguguran yang cukup tinggi karena terjadi nature selection, yaitu janin tidak berkembang pada satu tahap tertentu atau tumbuh namun dengan kelainan.
Namun begitu, bagi anda yang masih mendambakan bayi di usia anda yang sudah kepala tiga, maka ada beberapa pemeriksaan kesehatan yang perlu Anda lakukan sebelum memutuskan untuk hamil. Beberapa persiapan tersebut diantaranya adalah :
  • Berat badan
  • Tekanan darah
  • Metode kontrasepsi (KB) yang digunakan
  • Pemeriksaan terhadap virus rubella atau campak
  • Pemeriksaan darah dan urin untuk menentukan adanya infeksi
  • Pemeriksaan kadar kolesterol, dan
  • Pemeriksaan hemoglobin
Tips Ibu Hamil
Menganut pola makan yang sehat. Ibu Hamil membutuhkan lebih banyak minum suplemen asam folat (Folic acid), zat besi, protein, dan nutrisi esensial lainnya. Pola makan sehat dengan memperhatikan :
  • Vitamin: Vitamin prenatal sebaiknay mengandung 400 mikrogram asam folat (untuk mencegah cacat lahir spida bifida).
  • Vaksinasi untuk mencegah penyakit. Beberapa vaksinasi bisa dilakukan 3 bulan sebelum hamil untuk memberikan perlindungan pada bayi, misalnya vaksin campak, gondok, tetanus, polio, rubella dan hepatitis B.
  • Hindari obat-obatan berbahaya dan zat-zat beresiko.
  • Minuman beralkohol, tembakau, dan narkoba dilarang dikonsumsi selama hamil.
  • Beberapa obat resep seperti antibiotic tetrasiklin, pengencer darah, obat anti kejang dan ACE inhibitor bisa membahayakan janin. Karenanya jika sudah merencanakan kehamilan, perhatikan obat yang dikonsumsi.
  • Imunisasi rubella atau campak.
  • Berhenti merokok dan minum alcohol.
  • Olah raga low-impact
  • Konseling Genetik. Wanita yang hamil dengan usia di atas 35 tahun biasanya juga akan diminta untuk melakukan konseling genetic, atau konseling ini bisa juga dilakukan oleh dokter kandungan.
  • Prenatal Testing. Prenatal testing pada saat kehamilan beresiko tinggi tidak dapat mendeteksi semua abnormalitas (kelainan janin) dan perkembangan janin yang mungkin terjadi. Namun aktifitas kromosom bisa dideteksi pada saat perkembangan janin melalui serangkaian tes seperti amniocentesis, ultrasound, sampling chorionic villus, dan fetoscopy. Hasil dari serangkaian tes ini dapat menjadikan pilihan bagi pasangan untuk melanjutkan kehamilan atau menggugurkan janin yang dikandung jika ternyata terdeteksi adanya kelainan. Kehamilan di usia diatas 35 tahun kedengarannya memang menyeramkan, tapi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kebanyakan wanita yang hamil di atas 35 tahunberhasil menjalankan kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang sempurna. Memang benar bahwa resiko akan bertambah sejalan dengan meningkatnya usia calon ibu saat hamil, namun dengan persiapan yang matang, informasi yang lebih lengkap, serta bantuan tenaga kesehatan yang lebih sigap dan informative terhadap kehamilan resiko tinggi akan membantu calon ibu untuk bisa tetap percaya diri, sehat, dan semangat saat menjalani kehamilannya.
  • Konsultasikan kehamilan pada ahlinya. Hal ini karena ibu yang hamil di usia rawan memerlukan pengawasan khusus secara dini selama kehamilan dan pada proses persalinan. Sebaiknya ibu ditangani oleh dokter spesialis atau bidan bukan dokter umum. Bila kondisi tidak memungkinkan setidaknya ibu pernah satu atau dua kali berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapat pemeriksaan yang khusus dan teliti, sepert pemeriksaan panggul, tekanan darah dan pemeriksaan USG.
  • Proses persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memenuhi standar. Sarana dan prasarana yang baik juga berguna bila terjadi suatu kelainan pada proses persalinan, misalnya jika ibu mengalami perdarahan maka dapat ditanggulangi secara cepat dengan tersedianya tranfusi, sehingga angka mortalitas ibu dan bayi dapat dikurangi.
  • Lakukan tes amniosintesis pada awal kehamilan.
  • Tes ini dilakukan bagi wanita berusia 35 tahun atau lebih pada kehamilan pertama untuk menentukan kemungkinan down syndrome dan kelainan janinatau kelainan kromosom. Kelainan tersebut dapat dideteksi dengan screening darah dan USG pada kehamilan dini. Tapi deteksi terakurat hanyalah melalui tindakan amniosintesis atau mengambil contoh jaringan untuk dilihat kromosomnya. Dalam mengambil keputusan, ada baiknya orang tua mencamkan bahwa hanya 10 % anak dengan down syndrome benar-benar terbelakang dan banyak anak semacam ini memiliki potensi untuk hidup penuh, setidaknya hidup yang hampir optimal.
  • Pemeriksaan Laboratorium.
  • Menjalani upaya medis untuk mencegah hipertensi dan cacat bawaan.
  • Melakukan latihan, diet serta perawatan pralahir.
  • Membuat perjanjian prakehamilan dengan dokter kandungan.
  • Cek rutin untuk memonitor kesehatan anda.
  • Memperhatikan berat badan. Kenaikan berat badan yang tepat dapat mendukung kesehatan bayi. Dan juga akan lebih mudah bagi Anda menurunkan berat badan setelah melahirkan. Kenaikan kira-kira 11-16 kg kadang menjadi rekomendasi untuk perempuan denag berat badan normal. Untuk perempuan obesitas, disarankan menurunkan berat badan sebelum hamil.
  • Tetap aktif. Dengan berolahraga, Anda akan memiliki kekuatan otot dan stamina, yang berguna saat melahirkan, kecuali dokter kandungan Anda melarang.
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan atau skrining awal. Pemerksaan meliputi kondisi umum apakah sehat atau tidak, jantung sehat atau tidak, ada tekanan darah tinggi atau tidak, penyakit kencing manis, tiroid, dan lain-lain.
  • Tinggal tidak terpencil dan sanggup periksa rutin ke dokter kandungan dan sanggup melahirkan di RS atau dengan pengawasan dokter spesialis kandungan.
  • Jaga berat badan. Memiliki berat badan berlebih ketika hamil bisa meningkatkan resiko terjadinya komplikasi.
  • Persiapan resiko yang mungkin dialami bayi. Diharapkan pasangan melakukan skrining genetik untuk mencegah timbulnya penyakit tertentu.
  • Resiko kesehatan diri sendiri.
  • Rajin control. Lakukan screening laboratorium minimal 3 kali selama kehamilan yaitu screening trimester satu (1-28 minggu), trimester dua (28-36 minggu), dan trimester tiga (36- 40 minggu).
  • Lebih hati-hati. Prinsipnya, Anda harus bisa mengukur kemampuan sendiri.
  • Hindari stress dengan mengelola emosi.
  • Tak ada perlakuan khusus. Perlakuannya tetap sama. Yang membedakan hanya saat menjalani proses persalinan.
  • Kebersihan diri dan pakaian. Sepatu atau alas kaki yang tinggi sebaiknya jangan dipakai, oleh karena tempat titik berat wanita hamil berubah, sehingga mudah tergelincir atau jatuh.
(Sumber diambil dari buku Cara sehat dan Aman Menghadapi Kehamilan diatas Usia 35 Tahun)

No comments: